EO Community
Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011) - Printable Version

+- EO Community (http://www.eocommunity.com)
+-- Forum: EOC Forum (/Forum-EOC-Forum)
+--- Forum: Movie & TV (/Forum-Movie-TV)
+--- Thread: Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011) (/Review-HAFALAN-SHALAT-DELISA-2011)



Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011) - danieldokter - 12-24-2011 01:38 AM

HAFALAN SHALAT DELISA : KESALAHAN BAKU ALA SINEMA KITA
Sutradara : Sony Gaokasak
Produksi : Kharisma Starvision Plus, 2011

[Image: 15284211224d1f5fbb6720c89fdf6347ece3dd2e.jpg]

Kisah-kisah sejati itu, baik nyata, fiktif, maupun percampurannya, memang merupakan senjata ampuh untuk jadi tema sebuah film. Dari sana mungkin ada seribu bahkan sejuta pesan yang bisa disempalkan ke dalamnya, termasuk, oh ya, balutan akhirnya jadi film relijius dalam lingkup Islami yang masih jadi trend tematik di sinema kita. Tapi khusus di sinema Indonesia, tema-tema seperti ini bisa punya dua sisi koin. Yang pertama memang hadir menyentuh seperti film-film melodrama produksi luar, namun satunya yang sering jadi bandrol negatif adalah aji mumpung-aji mumpung yang memanfaatkannya untuk jadi sekedar jualan bagi selera tipikal penonton kita. Oke, however, mari tak mengolok-olok satu sejarah paling memilukan dari bencana Tsunami Aceh tahun 2004 silam. ‘Hafalan Shalat Delisa’ yang diangkat dari novel karya ‘Tere Liye’ (those who usually watched or listen to Hindi movie or songs pasti tahu artinya, ‘For You’) penulis yang lebih suka tampil dengan nama pena-nya itu, memang menggunakan peristiwa ini sebagai latar kisahnya. Saya yakin tak ada yang salah dengan novel yang katanya memang sangat menyentuh itu. Pesan tentang keteguhan seorang anak perempuan dibalik persepsi reliji kepada bencana yang menimpa keluarganya, dengan interaksi-interaksi tambahan pada berbagai karakter yang hadir mulai dari orang-orang di lingkungan sekitar dan anak seumurnya sampai prajurit relawan, memang serba linear tapi bukan berarti salah. Itu dalam lingkup novel yang memang menggunakan bahasa buku.

Nah, penerjemahannya ke film, pastinya masalah lain. Apalagi ini adalah Aceh. Sebuah bagian dari negara ini dimana adat dan budayanya sangat mendominasi. Tak perduli Anda suku apa, jika tinggal lama disana, dialek, adalah salah satu yang akan merubah cara Anda berbicara. Ini termasuk karakter orang Cina yang digambarkan pula secara old-fashioned ber-owe-owe dengan suara sengau seperti film-film ‘Si Pitung’. Entah apa tujuannya, semua ini kurang lebih sama seperti kasus Ranah Minang dalam ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah (DLBK)’, yang dihancurleburkan oleh seorang penulis skenario yang sama. Entahlah memang atas desakan produser se-etnis dengan ‘DBLK’ yang mau hasil serba instan, Armantono lagi-lagi memilih menghilangkan dialek dan menggantinya dengan senjata pamungkas bahasa baku atau buku dalam dialognya. Entah memang mereka tak tahu apa akibatnya bahasa-bahasa serba kaku ini ke bangunan emosi yang ingin mereka capai di tema-tema seperti ini, atau menganggap semua penonton adalah orang-orang tak terdidik yang tak tahu kebiasaan seputar bangsanya, tak mengapa. Saya akan memberi saran sekali lagi, baik perlu atau kalian rasa tidak. Bahwa dalam lingkup fantasi sebagai latar setnya, seperti ‘Love Story’ yang juga ditulis Armantono ini, silahkan. Mau memakai bahasa Timbuktu sekalipun, tak mengapa. Tapi saat Anda-Anda bicara dengan realitas, cobalah berusaha sedikit seperti sebagian film kita yang mau-maunya menggunakan dialek hingga bahasa daerah, kadang malah di film-film komedi ringan. Saya percaya nama-nama terkenal yang kalian gunakan pun pasti bisa tampil dengan dialek itu. Kenyataan juga bahwa sebagian dari mereka kelihatan canggung dan masih mencoba berdialog dengan wajar sehingga yang muncul jadi seperti orang kebingungan mengucapkan dialog serba tak sinkron. Sekali lagi, tampilan dialek dalam film yang menyangkut latar tertentu itu banyak gunanya. Tapi lagi, bila kalian-kalian menganggap ini bukan hal krusial, dan nyaman-nyaman saja dengan itu, ya sudahlah. Mungkin memang, maaf saja, taraf otak dan pemikiran kita yang berbeda.

Ini adalah sebuah kisah tentang Delisa (Chantiq Schagerl), gadis kecil dari Lhok Nga, Aceh, yang kehilangan keluarganya akibat Tsunami Aceh 2004. Tragedi ini terjadi tepat ketika Delisa tengah disaksikan Ummi-nya (Nirina Zubir) mencoba menyelesaikan ujian shalatnya di depan Ustadz Rahmad (Fathir Muchtar, credited with Al) di sekolah. Delisa yang selamat namun kehilangan sebelah kaki, Ummi berikut tiga saudarinya, Fatimah (Ghina Salsabila) dan kembar Aisyah-Zahra (Reska/Riska Tania Apriadi) kemudian ditemukan oleh tentara relawan Amerika, Smith (Mike Lewis) tanpa menyadari kalau Abi-nya, Usman (Reza Rahadian) yang bekerja di sebuah kapal tanker sudah menyusul untuk mencarinya. Di bawah bimbingan Smith dan suster relawan Sophie (Loide Christina Teixeira), Delisa mencoba tetap tegar menerima keadaannya hingga bertemu lagi dengan Usman. Mereka terus mencari keberadaan Ummi sambil perlahan memahami arti keikhlasan atas cobaan-cobaan yang diberikan.

Saya tak akan menampik kalau niat mengadaptasi ‘Hafalan Shalat Delisa’ punya segudang potensi untuk jadi sebuah drama kisah sejati yang sangat menyentuh. Walaupun membawa memori itu pada orang-orang yang langsung mengalami tragedi atau keluarga-keluarga mereka, penyampaiannya yang dibalut pesan relijius yang cukup solid juga pasti bakal jadi sangat berharga. Tapi itulah. Sinema kita agaknya masih berat sekali membangun emosinya lewat hal-hal yang baik. Jauh dibalik tujuan yang sebenarnya serba luhur itu, sasarannya seringkali tetap ke ember-emberan untuk memancing airmata penonton, baik dari dialog dan bangunan karakternya. Itupun tak terlaksana dengan baik, dan malah masih ditambah lagi dengan klise-klise lain untuk tujuan jualan. Coba lihat bagaimana ‘Aftershock’ bisa berkomunikasi sedekat itu walaupun bicara tentang bencana yang tak langsung dialami penonton luar Cina. Film itu mungkin memang membanggakan hasil kerja efek spesial untuk merekonstruksi kejadian aslinya, tapi setelah menyaksikannya, kita semua tahu, bahwa jauh dibalik pameran tadi ada sesuatu yang lain yang dijadikan fokus oleh sutradaranya. Sony Gaokasak (‘Tentang Cinta’) dengan tim produksinya mungkin sudah cukup baik mengatur detil setting rekonstruksi tadi meskipun efek Tsunaminya terlihat sangat tidak layak untuk ukuran sinematis, tapi mereka melupakan satu hal. Komunikasi dan karakterisasi. Entah memang mereka menganggap belajar dialek akan menghambat tendensi peredarannya tepat di akhir Desember untuk memperingati tragedi itu, dengan bahasa baku serba kaku dan canggung itu, emosi yang hendak dibangun mereka melayang entah kemana.

Karakter-karakternya berdialog secara tak sinkron dengan kebingungan yang juga sama dalam menerjemahkan intonasi dan ekspresinya, tapi sebagian dari mereka memang seolah berjalan terus mengikutinya tanpa hati. Padahal sosok Chantiq sebagai pemeran Delisa sebenarnya sudah menampilkan kepolosan anak-anak walaupun kadang seperti dituntut sutradara untuk selalu sok wise, ketimbang berproses dengan sempurna. Saya tak tahu perasaan sebenarnya, namun penampilan Reza yang memang tak pernah mengecewakan itu kelihatan sekali gelisah dengan hal ini. Dialog-dialog kaku itu selalu ditanggapinya dengan usaha untuk kelihatan terlihat wajar namun efeknya jadi tak sinkron dengan lawan-lawan mainnya. Joe P Project yang tampil sesantai biasanya pun tak punya salah dalam kemampuan aktingnya, namun ditimpa kesalahan atas karakter yang diberikan kepadanya dengan logat Cina ‘owe-owe’ bersuara sengau yang, terus terang, konyol. Sama seperti Fathir yang dituntut. lagi-lagi, skenario, untuk menerjemahkan karakter ustadz dengan seratus kali mengucapkan ‘Astaghfirullah’ atau ‘Alhamdulillah’ dengan dangkal sekali. Bagaimana bisa ada jalinan komunikasi yang baik kala kita melihat sekumpulan penduduk dan anak-anak Aceh tidak berdialek tapi malah penuh dengan bahasa ala sinetron ditimpali ‘dong’ atau ‘deh’. Dan apakah membantu hanya dengan menyelipkan lagu-lagu Asli Aceh di dalamnya? I don’t think so. Yang paling parah adalah penampilan Loide sebagai Suster Sophie. Oke, wajah bulenya memang cantik, namun ketimbang mencoba memberi aura penuh kasih terhadap Delisa, tampilannya kerap terasa bak kapstok berjalan, penuh polesan diantara para pasien sekarat yang sebenarnya memerlukan bantuan intensif. Percayalah, sama seperti beratnya rasa untuk mengkritik hasil film ini, sebenarnya sangat tak bijak untuk mengolok-olok sebuah peristiwa tragedi yang menorehkan banyak luka di hati yang mengalaminya kecuali kita hanya melihat dengan dangkal. Tapi apa yang kalian lakukan terhadap niat baik penuh pesan tadi demi sebuah jualan, itu juga kelewatan. (dan)

danieldokter.wordpress.com


RE: Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011) - adihartono - 12-24-2011 09:31 AM

Di Aceh, terutama di Banda Aceh. Warga Indonesia keturunan (suku Tionghoa) tidak lagi menggunakan dialek "Owe-Owe" doc. plis

Mereka udah berbaur dengan warga Aceh, bahkan sebagian besar sudah bisa berbahasa Aceh dengan dialek yang pas Big Grin Big Grin Big Grin


RE: Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011) - danieldokter - 12-24-2011 04:30 PM

(12-24-2011 09:31 AM)adihartono Wrote:  Di Aceh, terutama di Banda Aceh. Warga Indonesia keturunan (suku Tionghoa) tidak lagi menggunakan dialek "Owe-Owe" doc. plis

Mereka udah berbaur dengan warga Aceh, bahkan sebagian besar sudah bisa berbahasa Aceh dengan dialek yang pas Big Grin Big Grin Big Grin

makanya. buat film seenak perutnya. ga pake survey dan ga sesuai realita.


RE: Review : HAFALAN SHALAT DELISA (2011) - black_roses - 12-25-2011 09:14 AM

(12-24-2011 04:30 PM)danieldokter Wrote:  
(12-24-2011 09:31 AM)adihartono Wrote:  Di Aceh, terutama di Banda Aceh. Warga Indonesia keturunan (suku Tionghoa) tidak lagi menggunakan dialek "Owe-Owe" doc. plis

Mereka udah berbaur dengan warga Aceh, bahkan sebagian besar sudah bisa berbahasa Aceh dengan dialek yang pas Big Grin Big Grin Big Grin

makanya. buat film seenak perutnya. ga pake survey dan ga sesuai realita.

Ane setuju sama Mas Dokter ....
jadi prihatin juga sih dengan karya-karya anak negri sekarang.......