EO Community : Komunitas Event Organizer Indonesia | Meet, Share & Discuss |



Post Reply 
 
Thread Rating:
  • 1 Votes - 5 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
 
Tubuh ini Milik Siapakah?
 
Share to: Facebook Twitter StumbleUpon Send
 to Google Buzz Send to LinkedIn
Author Message
marbela Offline
๑۩۩»»ÉÖcer's««۩۩๑
EOcer's

Posts: 74
Joined: Nov 2010
Reputation: 9
  

 
Post: #1
Tubuh ini Milik Siapakah?
[Image: kaca1.jpg]

"Ketika aku bangun pagi hari, aku berkaca, ternyata aku memakai tubuh orang lain," kira-kira begitulah tulisan Afrizal Malna. Puisi itu sedemikian menyentak lantaran selama ini banyak orang yang terlalau yakin sedang berada dalam dan memiliki tubuhnya sendiri. Seolah-olah tubuh kita selalu setia dengan jiwanya. Seolah-olah reinkarnasi hanya milik orang Budha.

Kesadaran tentang tubuh, seringkali amat berebihan. Men sana in corpore sano, katanya. Itulah yang dipercaya banyak orang untuk kampanye olahraga. Padahal, banyak orang gila yang tak waras jiwanya namun memiliki tubuh yang sehat-sehat saja.

Pemujaan terhadap tubuh inilah yang kemudian banyak menyuburkan industri kecantikan, yang mendewakan penampilan fisik dan (celakanya) parameter yang digunakan justru saling menjatuhkan satu sama lain. Parameter inilah yang dimain-mainkan oleh kapitalisme dengan mesin raksasa untuk menggiring ke atas selera yang diinginkan oleh pemilik modal. Perempuan yang cantik adalah yang berkulit putih, supaya produk whitening menjadi laku.

Semangat Hedoisme itu masih terus berlangsung hingga sekarang, padahal paham ini lahir ratusan abad sebelum Masehi. Aristippus (435-366 SM) yang menciptakan Hediusme punya kred, "kesenangan tubuh auh lebih baik daripada kesenangan jiwa.". Tetapi (ini yang jarang diketahui) Epikuros (341-270 SM) kemudian menciptakan Epikureanisme, yang percaya bahwa kesenangan-kesenangan jiwa lebih tinggi daripada kesenangan-kesenangan tubuh.

Nampaknya kebudayaan manusia masa kini masih tak bisa melepaskan diri dari masa Yunani purba, atau (jangan-jangan) sedang mengalami siklus, kemali ke titik asal. Bahwa Yunani memang memuja tubuh. Patung, lukisan dan keramik mereka meryakan indahnya postur tubuh manusia yang telanjang. Dan orang Yunanilah yang pertama-tama mengembangkan teori-teori mengenai kecantikan. Kebudayaan Yunani, pada mulanya, memang berpusat pada tubuh.

Dan orangpun lantas mengabaikan begitu saja ajaran Scorates (466-399 SM) yang menegaskan bahwa tubuh merupakan perangkap jiwa, sebuah rintangan dan kelemaan yang terus menerus memorong, mengganggu, memecah blah dan mencegak kita untuk memeproleh secuil kebenaran. Sesungguhnya, kata Scorates, tubuh adalah makam (kuburan) jiwa.

Plato, murid Scorates, malah menajamkan ajaran gurunya, bahwa jiwa sungguh-sungguh lebih unggul daripada tubuh. Karena tubuh tidak lebih daripada sekedar bayang-bayang yang terus menjaga kita untuk tetap utuh. Hanya dalam kematian saja jiwa dibebaskan dari keinginan-keinginan dan nafsu jahat tubuh. Meskipun, Plato juga beranggapan bahwa tubuh molek adalah jalan pertama menuju Keindahan Absolut dan Tuhan.

Sementara kaum Kristiani percaya, bahwa tubuh adalah bait (rumah) Roh Kudus. "Tubuhmu bukan lagi milikmu sendiri melainkan milik Allah; Ia telah membeli kamu dengna lunsa. Karena itu gunakanlah tubuhmu semata-mata demi kemuliaan Allah." Dan, "masing-masing dari kamu harus belajar untuk menguasai tubuh, agar dapat hidup di dalam pengudusan dan penghormatan."

Berkaitan dengan Yesus Kristus, dalam Islam malah disebut Isa adalah satu-satunya manusia yang yang langsung membawa tubuhnya ke sorga tanpa harus mati terlebih dahulu. Islam juga mengajarkan agar tubuh tidak memperbudak diri dan menyeret jiwa ke perbuatan sesat. Itulah sebabnya penting menutup aurat agar tidak menyebabkan timbulnya godaan setan yang menyesatkan.

Tetapi, itulah yang sekarang terjadi, bahwa semangat hedois nampaknya akan terus dan bertambah subur lantaran kapitalisme masih tetap berjaya dan entah berakhir sampai kapan. Semangat memuja tubuh, juga memuja diri sendiri, sesungguhnya tak lebih dari sebuah onani. Narcism.

LANTAS, tubuh-tubuh siapakah yang tlah menjadi mesin penghancur bagi sesama? Telah banyak disaksikan tubuh yang satu membunuh yang lain, kekerasan demi kekerasan terus terjadi, sementara pada saat yang sama orang masih yakin bahwa tubuhnya adalah tubuh yang baik-baik saja. Narsisme, yang semula memuja diri sendiri telah meleset menjadi ketakutan-ketakutan terhadap realitas sosial yang banyak mencerminkan nafsu.

Manusia mungkin saja hanya mencintai dan bermimpi tentang sesuatu yang ada dalam benaknya dan dirinya sendiri dihadapan tubuhnya (sinis, narsis). bisa jadi tergambarkan secara bohong belaka atau bisa jadi gambaran imajiner tersebut adalah gambaran nyata orang benar-benar terjadi. Atau kemudian dua realitas ini dipercayai sebagai sebuah kebenaran.

Itulah yang mendasari karya-karya Benny Wicaksono. Karyanya, katanya, adalah sebuah raksi kritis terhadap berbagai peristiwa dan kenyataan sehari-hari. Dia menyoroti berbagai peristiwa dan karakter manusia. Seni baginya kemudian menjadi ritual yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Inilah yang selalu menjadi ide dan pertanyaan-pertanyaan selama ini.

Memang sepertinya Benny menghadirkan sebuah paradoks, bahwa "seni yang menyembuhkan" itu ternyata berujud karya-karya yang menunjukkan kesaktian-kesaktian. Barangkali bahasa kekerasan yang telah "membudaya" itu sesungguhnya telah mendarah daging dalam diri kita sendiri, diri semua orang. Kita diajak untuk menyaksikan diri (yang kita anggap milik) orang lain, padahal sesungguhnya itulah diri kita yang sesungguhnya.

Kita ditantang untuk terus pempertanyakan, "tubuh siapakah yang sedang kita jalankan selama ini?" Sampai-sampai kita tidak harus melongok ke dalam lubang kuburan pun, ternyata tubuh kitalah yang terdapat di dalamnya. Dan (oronisnya), kita malah tersenyum seolah -olah menganggap sebagai peristiwa yang menggelikan. Seakan-akan kita masih tetap saja bersikukuh bahwa diri kita telah dan sedang memiliki tubuh kita sendiri.

Bisa jadi "seni yang menyembuhkan" itu masih menjadi utopia. Benny hanya percaya bahwa seni adalah ritual yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, dan bkan berarti pasti bisa menyembukan. Bahwa Narcism atau Narsisme telah berubah menjadi NarsisMe Sepertinya sia-sia belaka melawan hedoisme yang digerakkan oleh mesin kapitalisme itu.

Atau, barangkali Benny musti menengok ulang, apa makna Narcism sebenarnya. Apakah dia sengaja memplesetkan, memberi pamaknaan baru atauka njangan-jangan ada yang "tidak sesuai antara kata dan makna". Karena dengan memberi label seperti ini, mengandung risiko menjadi belenggu tersendiri untuk munculnya penafsiran yang lebih bebas dan liar.

BAGAIMANAPUN Benny telah berupaya menyajikan dengan caranya yang lebih menteror ketimbang sekedar memajang gambar pasif. Dia pilih (apa yang disebut-sebutkan) New Media Art, sebuah kecenderungan pameran seni rupa yang memanfaatkan piranti teknologi modern. Sehingga karya-karyanya memiliki tiga dimensi waktu, yakni apa yang sedang disajikan (drawing), apa yang pernah dibuat dan apa-apa yang bakal terjadi selama penyajian. Dua bentu karya yang disebut terakhir itu berjudul Instalasi Video dan Video Permormance Art.

Teror ini semakin diperkuat dengan sajian musik eksperimental saat pembukaan, yang menggunakan pernagkat-perangkat elektronik untuk menghasilkan sound yang eksperimental. Seperti dipakainya komputer untuk mengolah data-data digital sehingga menghasilkan elemen musik. Belum lagi peranan flash animator yang menggunakan program flash untuk mengakomodasi karya-karya animasinya.

Begitulah, perkembangan seni rupa kontemporer agaknya telah memasuki ranah baru yang sedemikian meluas, mengakomodasi piranti teknologi mutakhir yang semula seoalh-olah ditabukan kalangan seniman konvensional, Meskipun, persoalannya, piranti yang mahal ini ternyata memang berada diluar jangkauan senimannya sendiri. Mungki dari sisi penguasaan teknologi masih bisa dikejar, tetapi untuk dapat memeprgunakan diluar kegunaan yang lazim, menjadi sebuah halangan tersendiri.

Hal ini mengingatkan penyelenggaraan pameran instalasi video di Jakarta, yang banyak menggunakan pesawat televisi, namun ternyata sama sekali tidka membuat produsen atau distibutor TV tertarik untuk mensponsorinya. Persoalan tersebut memang lebih menyangkut teknis, tetapi itulah kendalanya ketika sebuah gagasan besar hendak diusung dengan menggunakan piranti mutakhir. Itulah tantangan bagi New Media Art. Apa boleh buat. (*)

Tugas Kuliah Sos. Seni.

Tantangan Perupa, Mozaik Sosiologi Seni


12-04-2010 04:32 PM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

Post Reply 


Possibly Related Threads...
Thread: Author Replies: Views: Last Post
  Siapakah Pemilik Emas Terbanyak...? sagu 8 3,424 01-10-2012 08:04 PM
Last Post: adihartono
  Teka teki siapakah yg memelihara ikan?? Aura.rahma 0 772 01-29-2011 09:24 PM
Last Post: Aura.rahma