EO Community : Komunitas Event Organizer Indonesia | Meet, Share & Discuss |



Post Reply 
 
Thread Rating:
  • 0 Votes - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
 
Jangan Jadikan Aku Istrimu
 
Share to: Facebook Twitter StumbleUpon Send
 to Google Buzz Send to LinkedIn
Author Message
Gogol_HT Offline
๑۩۩»»ÉÖÇ««۩۩๑
*

Posts: 14,335
Joined: Oct 2010
Reputation: 4899
  

 
Post: #1
Heart Jangan Jadikan Aku Istrimu
Mara membanting pantatnya ke atas kursi, membuat kursi dari plastik itu bergetar. Bibirnya manyun. Dengan hentakan kecil didorong sandalnya, lepas dari kedua kakinya. Jari-jari kakinya bergerak, seolah baru terlepas dari kungkungan. Dimas yang baru saja memarkir sepeda motornya hanya geleng-geleng kepala melihat polah gadis yang dipacarinya dua tahun lalu itu. Berbeda dengan Mara, dengan tenang Dimas mengambil duduk. Disandarkan punggungnya pada kursi.

“Pokoknya aku nggak mau lagi ikut kalo ada acara di rumahmu.”

Bicara juga akhirnya, batin Dimas. Selama perjalanan pulang dari rumah Dimas tadi Mara sama sekali tidak mau bicara, ditanya juga tidak menjawab. Dimas tahu betul kekasihnya itu sedang marah. Apa yang membuat gadis yang hampir tak bisa diam itu hening kalau bukan karena ada sesuatu yang mengusik hatinya.

“Aku malu. Ibumu pasti nggak suka sama aku. Ibumu nggak setuju kan kamu pacaran sama aku? Ya sudah, nggak papa,” Mara terus saja mengomel.

“Kamu ini bicara apa sih? Baru datang sudah marah-marah.”

“Kamu liat kan tadi. Ibumu pasti kecewa karena calon…ah, sudahlah. Kamu tahu bukan aku yang diinginkan ibumu tapi Sona.”

Dimas diam. Dipandanginya Mara yang masih kelihatan kesal.

“Aku pulang dulu.”

“Nah, bener kan? Kamu tahu tapi kamu nggak pernah bilang ke aku. Kamu sengaja ya bikin aku malu?”

“Apanya yang bener? Kamu istirahat saja dulu, nanti malam aku kesini lagi,” kata Dimas sambil berdiri.

“Kamu selalu seperti ini. Bukannya menyelesaikan masalah malah langsung pergi. Sebenarnya kamu ngerti perasaanku nggak sih?”

Dimas menarik nafasnya, “kamu masih emosi. Aku janji nanti kesini lagi, sekarang kamu istirahat saja dulu.”

Mara berdiri. Dia hapal betul kebiasaan Dimas. Meski hatinya masih dongkol dia tahu dia hanya akan bisa marah-marah sendiri. Mengharapkan Dimas akan tinggal dan menenangkannya adalah sesuatu yang mustahil. Kadang dia berpikir apa semua laki-laki seperti ini, tidak bisa mengerti perasaan perempuan, perasaannya. Setidaknya katakan sesuatu, katakan kalau apapun yang terjadi kamu akan tetap bersamaku meski mungkin itu hanya di bibirmu. Pikiran Mara masih melayang-layang.

“Aku pulang dulu,” pamit Dimas.

“Bodo’,” sahut Mara.

Mengingat kejadian di rumah Dimas tadi membuat Mara susah tidur. Hari ini ayah Dimas ulang tahun. Di rumahnya diadakan pesta kecil-kecilan khusus keluarga. Dari seminggu yang lalu Mara sudah menyiapkan diri. Tadinya dia tak ingin memaksakan diri, cukup kaos, celana jins plus sepatu kanvasnya tapi Marcel, teman kosnya, melarangnya. Dia meminta Mara memakai rok dan kemeja serta sandal berhak, sesuatu yang tak pernah disentuh Mara sebelumnya. Mara menolak keras meski pada akhirnya dia mau memakai sandal tanpa hak dan kemeja. Rok, jangan harap.

Pagi-pagi Dimas sudah menjemputnya. Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai ibu Dimas meminta Mara membantu menggoreng ayam. Mara yang hampir tak pernah menyentuh peralatan dapurpun kebingungan. Suara minyak panas di atas wajan menyiutkan nyalinya dan benar saja, begitu Mara memasukkan potongan ayam ke wajan dia berteriak dan tanpa sadar melemparkan ayam itu. Orang-orang pun menertawakannya, Mara benar-benar malu.

“Tidak pernah masak ya?” tanya ibu Dimas.

Mara menggeleng lemah. Wajahnya masih pucat. Suruh dia pergi sendirian, meski di kota yang belum dia kenal dia tidak akan takut. Minta dia lari keliling lapangan, berapa kalipun dia sanggup. Yang membuatnya tambah kesal adalah Sona. Gadis yang juga mantan pacar Dimas itu ternyata juga datang. Dengan sigap gadis itu menggantikan Mara, menggoreng ayam. Sepanjang acara Mara hanya diam, sesekali saja dia tersenyum. Kalau saja itu bukan acara keluarga Dimas pasti dia sudah pergi.

“Akh!” Mara berteriak sendiri.

***

“Gimana tulisanmu, sudah selesai belum?”

“Belum mbak, masih ada yang kurang. Nggak enak aja dibacanya.”

“Masih ada seminggu lagi. Asal nggak mepet-mepet aja. Oh iya Mar, Dimas itu punya saudara cewek nggak?”

Mara yang sedang sibuk memelototi laptopnya langsung menoleh. Dipandangnya wajah Mbak Ratri, atasan sekaligus temannya, “Nggak punya. Emang kenapa mbak?”

“Oh. Nggak, kemarin pas nganter Dita ke mall aku liat Dimas sama cewek.”

Mara diam.

“Nggak begitu jelas wajahnya karena mereka lagi jalan. Pas aku mau liat lagi dah ilang. Temannya kali ya?”

“Iya kali,” jawab Mara sambil kemudian memandangi layar laptopnya.

***

Dimas meletakkan tasnya ke atas meja, dibuka jaketnya kemudian duduk. Mara yang duduk di sampingnya hanya memandangi laki-laki itu. Begitu banyak yang ada di kepalanya, banyak yang sudah ada di ujung bibirnya tapi dia tahan.

“Apa lagi?” tanya Dimas.

“Kamu tahu apa yang aku mau katakan,” kata Mara sinis.

“Ibu, Sona atau?”

“Kamu. Kamu tahu apa yang buat aku bertahan, kamu. Selama ini apapun yang terjadi aku masih bisa nggak peduli karena aku ingin mempertahankan kamu. Tapi akhir-akhir ini aku mulai kehilangan alasan untuk tetap bisa mempertahankan kamu. Kenapa selalu aku yang harus berjuang? Kamu sepertinya nggak pernah peduli.”

“Sepertinya, bukan benar-benar nggak peduli.”

“Aku bosan seperti ini. Aku tahu kamu pendiam, tak suka banyak bicara tapi setidaknya katakan kalau kamu benar-benar peduli. Tunjukkan padaku kalau aku punya alasan untuk tetep mempertahankan hubungan ini.”

“Sona?”

“Kemarin Mbak Ratri bilang dia melihatmu di mall…”

“Dia minta tolong dan aku nggak bisa menolaknya.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Aku nggak mau kamu marah, lagipula aku sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.”

Mara menarik nafasnya dalam-dalam.

“Apa aku pernah melarangmu bertemu teman-temanmu? Apa aku selalu mengganggumu ketika kamu asyik bersama mereka? Apa aku selalu menanyai apa yang kamu lakukan, dimana kamu? Nggak. Aku tahu yang seperti itu menyebalkan dan aku sendiri juga tidak ingin diperlakukan seperti itu. Dua tahun kita bersama tapi sepertinya kamu belum mengerti. Kamu selalu diam.”

“Aku nggak pingin kita bertengkar.”

“Aku juga nggak. Nggak semua bisa selesai hanya dengan diam, kadang kita juga butuh bicara, membicarakannya. Seberapa kuatpun aku berusaha untuk mengerti aku nggak akan bisa, nggak jika kamu membiarkan aku terus bermain dengan pikiranku sendiri, prasangkaku.”

“Trus kamu maunya gimana?”

“Kita putus.”

Dimas terkejut. Dipandangnya wajah Mara. Gadis itu tidak sedang bercanda.

“Mungkin dengan begini kita akan tahu apa kita benar-benar saling membutuhkan.”

***

Mara mengobrak-abrik tas ranselnya. Dikeluarkan semua barang yang selama ini menghuni tas kesayangannya itu. Dengan kesal dia meletakkan tasnya ke atas meja. Dia sendiri menjatuhkan pantatnya ke atas kursi. Kedua tangannya mulai mengacak-acak rambutnya. Bagaimana dia bisa lupa? Buku itu selalu berada di dalam tasnya dan seingatnya dia sudah memasukkan kembali ke dalam tas setelah kemarin sempat mengeluarkannya. Dan sekarang buku itu hilang.

Sudah hampir sebulan dia tidak bertemu Dimas, tidak juga berkomunikasi. Mara bahkan berpikir Dimas memang tidak pernah benar-benar mencintainya. Mara ingat kata-kata temannya dulu, jika seorang laki-laki benar-benar mencintaimu dia akan berusaha, dan saat ini yang dilihat dan dirasakan Mara adalah Dimas tidak berusaha, tidak pernah berusaha. Kenapa aku harus mencintai seseorang yang bahkan tak pernah peduli padaku?

Mara gemas, dia kesal. Tak menyangka jika selama ini dia hanya bermain dengan hatinya sendiri. Semakin kesal karena dia tidak bisa menemukan buku yang selama ini menjadi tempat curahannya. Buku yang lumayan tebal dengan sampul berwarna hitam itu adalah kado dari sahabatnya. Meski pekerjaannya adalah menulis dan puluhan bahkan ratusan tulisannya sudah terkumpul dalam file-file di laptopnya tak menghentikan kesukaannya untuk tetap menulis di atas kertas.

“Mbak Mara, ada yang nyari?”

Sebuah teriakan dibalik pintu mengejutkannya. Siapa malam-malam begini bertamu, tanyanya dalam hati. Dengan malas Mara berdiri, diraihnya tali rambut di atas meja dan mengikat rambutnya asal-asalan. Mara melonggok mencoba mencari tahu siapa yang datang tapi tak kelihatan. Begitu dia keluar ke teras dia terkejut. Dimas sedang duduk sambil membaca majalah.

“Ada perlu apa?”

Dimas tersenyum dan meletakkan majalahnya.

“Kamu sehat?”

Mara tersenyum tipis, sinis sambil mengalihkan pandangannya.

“Duduk dong,” pinta Dimas.

Meski kesal Mara duduk juga. Pandangannya lurus ke taman, tak sedikitpun ingin menoleh ke Dimas yang ada di sampingnya. Dimas mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Mara. Sebuah buku yang langsung membuat mata Mara membelalak.

“Jadi kamu yang ngambil bukuku?”

“Nggak sengaja, maaf.”

Mara mengambil buku itu dan langsung mengenggamnya.

“Apa pertanyaan itu masih berlaku?”

Mara menoleh. “Kamu nggak bisa membaca buku orang seenaknya,” katanya. Setelah itu dia langsung berdiri.

“Karena aku nggak punya alasan untuk tidak menjadikan kamu sebagai istriku.”

Mara tersenyum sinis. Dimas berdiri.

“Maafin aku,” kata Dimas.

Mara masih diam. Dimas memegang pundaknya, membalik tubuh gadis itu agar menghadapnya.

“Aku benci kamu,” kata Mara.

“Aku sayang kamu,” kata Dimas sambil tersenyum.

Sejenak mereka diam, saling memandang.

“Apaan sih?” teriak Mara sambil menutupkan bukunya ke bibir Dimas.

“Sedikit aja,” kata Dimas.

“Ogah!” kata Mara sambil terus mendorong muka Dimas.

Merekapun tertawa.

“Puisi apa kayak gitu?* Emang aku seburuk itu apa?”

“Biarin. Kali aja ntar kamu kayak gitu.”

Dimas mengacak-acak rambut Mara membuat gadis itu berteriak-teriak kecil sambil menghindar.

***

*Puisi Mara yang ditulis di buku diarynya yang dibaca Dimas

Jangan Jadikan Aku Istrimu

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain

kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas, wajah mantan yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam

sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita

kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu langsung tertidur setelah kita bercinta

kamu harus tahu aku menikmati kebersamaan denganmu dan mendengar rayuan gombalmu yang lebih terdengar lucu daripada romantis adalah saat-saat yang kutunggu

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku

kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku

sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu

sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku

anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu

dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga

Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku

Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu

meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku

bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa

rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang

kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku

sedang seiring waktu kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu

kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah

kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon dan tak ingin apa



12-10-2010 07:49 PM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

Aura.rahma Offline
Ruang Bunda
*

Posts: 3,360
Joined: Oct 2010
Reputation: 990
  

 
Post: #2
RE: Jangan Jadikan Aku Istrimu
nyimak baca gan baca


01-31-2011 01:47 AM
Find all posts by this user Quote this message in a reply

Post Reply 


Possibly Related Threads...
Thread: Author Replies: Views: Last Post
  Jadikan Kencanmu Dengan Doi Lebih Berkesan beritamusik 1 946 01-30-2011 11:08 AM
Last Post: Aura.rahma